Kembali ke Artikel
Safety Corner
•
07 Feb 2026
Krisis Plastik dan Upaya Memulihkan Wajah Pesisir Makassar
Makassar, sebagai pintu gerbang Indonesia Timur, kini menghadapi tantangan lingkungan yang masif seiring dengan pesatnya pembangunan kota. Garis pantai yang dulunya menjadi kebanggaan kini terancam oleh polusi sampah plastik yang terakumulasi di sepanjang perairan Losari hingga ke pulau-pulau kecil di Spermonde. Fenomena ini bukan sekadar masalah estetika; mikroplastik telah masuk ke dalam rantai makanan, mengancam ekosistem terumbu karang yang menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati laut kita. Tanpa intervensi kebijakan yang tegas dan perubahan perilaku masyarakat, predikat Makassar sebagai kota maritim yang berkelanjutan bisa saja terancam hilang ditelan limbah domestik yang terus meningkat setiap tahunnya.
Upaya mitigasi sebenarnya telah dimulai melalui berbagai komunitas lingkungan di Sulawesi Selatan yang aktif mengampanyekan pembatasan plastik sekali pakai. Di beberapa titik di Makassar, bank sampah mulai diintegrasikan dengan sistem manajemen limbah perkotaan untuk mengurangi beban di TPA Antang. Namun, efektivitas langkah ini sangat bergantung pada sinergi antara regulasi pemerintah daerah dan kesadaran kolektif warga. Edukasi mengenai pemilahan sampah dari level rumah tangga menjadi kunci utama agar plastik tidak berakhir di muara sungai dan mencemari laut. Transformasi menuju "Green Makassar" membutuhkan lebih dari sekadar slogan; ia memerlukan aksi nyata dalam pengelolaan limbah yang sistematis dan berkelanjutan.
Bagikan: